Jumpa Pers kasus Penebangan Pohon demi Cacing Sonari yang mengakibatkan Kerusakan Hutan Lindung PANGRANGO

 

Cibodas, Mediarakyatnusantara.com – Jumpa pers yang diadakan di balai kehutanan Gunung Pangrango Cibodas untuk mengungkap kasus para pemburu Cacing Sonari yang mengakibatkan rusaknya hutan lindung gunung gede pangrango atau yang lebih dikenal dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sabtu (15/07/2017).

Dalam jumpa pers tersebut dihadiri oleh Kepala Balai Besar TNGGP Bpk. Adison, Mantan Deputi Basarnas Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin, Pengurus dan Anggota Forum Pers Independent Indonesia (FPII), juga beberapa awak media.

Mayjen TNI (P) Tatang Zaenudin (Tengah) Bersama Dewan Prosedium FPII

Kontrososial yang dilakukan oleh para awak media dalam jumpa pers tersebut yakni mengenai kronologi awal mula sampai terjadinya pemburuan cacing sonari, Pertama kali seorang warga yang berhasil menjual membuat dia menjadikan suatu bahan pencarian ekonomi dengan adanya para pemesan dan pemilik modal yang membutuhkan cacing sonari tersebut.

Menurut dokumentasi pengrusakan hutan terjadi disetiap ketinggian 2000 meter dengan suhu 5 derajat dan cacing sonari hanya berada pada Pohon Resep Malam dimana pohon tersebut adalah pohon terbaik setelah Pohon Jati kecurigaan dari Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar TNGGP Bpk. Adison “Pohon yang ditebang tidak dibawa oleh kelompok perusak hutan melainkan hanya ditinggalkan begitu saja, Dari hasil Investigasi pelaksana petugas ternyata kelompok tersebut hanya mencari juga memburu Cacing Sonari.” Jelas Adison.

“Cacing sonari tersebut berkelamin ganda dengan berkembang biak melalui telur menurut penelitian pertama pada tahun 2006 yakni oleh penelitian lippi dan lebih mengagumkan lagi bahwa cacing sonari bisa mengeluarkan bunyi yang disebut sonar, pekembangan tumbuh cacing sonari tersebut dari bayi sampai besar hanya berada di pohon dan ketika dewasa cacing sonari tersebut akan jatuh dan kemudian masuk kedalam tanah dengan umur 15 tahun dan bisa mencapai panjang 1,5 meter pada kondisi tersebut cacing sonari bisa memiliki harga jual sekitar 5jt sampai 6jt perkilonya saat ini.” pungkas Adison.

Dari sisi media yang dilihat bahwa hutan yang dilindungi dengan sengaja merusak satu pohon saja bisa mendapatkan hukuman yang tercantum dengan Ketentuan Pidana Pasal 78 ayat (12) jo pasal 50 ayat (3) huruf e dan/atau huruf m pada Undang – undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan oleh Kementrian Lingkungan Hidup.

Mantan Deputi Basarnas Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin diminta oleh rekan media untuk angkat bicara tentang hutan lindung yang berada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), “Saya sebagai warga asli Cianjur merasa bertanggung jawab terhadap hutan lindung dan saya juga perihatin mengenai kasus pembabatan pohon yang berada di Taman Nasiona Gunung Gede Pangrango dimana sekitar +/- 3,5 hektar dengan jumlah +/- 300 pohon yang dibabat habis oleh para pemburu yang saya lihat sendiri dan benar – benar sangat memperihatinkan karena dampaknya mengakibatkan tanah longsor, banjir dan kesengsaraan bagi warga sekitar.” Tegas Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin.

“Hanya karena kepentingan kelompok pemburu untuk merauk kekayaan dari pencarian cacing sonari saya juga mendengar bahwa mereka melakukannya dengan menebang pohon hanya untuk memudahkan kelompok tersebut mencari cacing sonari dengan menggunakan sensor mesin untuk menebang pohon.” Ujar Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin.

“Banyak kerugian yang dialami oleh saudara kita jika sebanyak 3000 pohon yang di tebang para pemburu mengakibatkan banjir di wilayah cianjur, jika ini di biarkan saya tidak mengerti bencana apa lagi yg akan dialami saudara kita bahakan banyak daerah yang belum pernah terkena banjir sekarang sudah mulai terkena banjir, Banyak kerugian materil yang dialami bahkan nyawapun akan menjadi korban akibat pelaku penebangan yang tidak bertanggung jawab tersebut.” Papar Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin.

Informasi pelaksana petugas TNGGP terhadap kejadian tersebut cacing sonari hanya dapat hidup di 2500 rindam, Dalam pemasaran cacing sonari dapat dibilang black market, sedangkan manfaat yang dapat digunakan yakni sebagai obat penyakit kuning, tipes, serta kecantikan untuk negara Tiongkok dan cacing yang sudah di bakar hanya sebagai makanan hewan Tringgiling sedangkan hewan Tringgiling tersebut dapat digunakan sebagai bahan produksi sabu – sabu.

Kawasan TNGGP adalah sebuah kawasan konservasi yang menempati posisi penting sebagai hulu daerah aliran sungai Citarum, Ciliwung, Cisadane, dan Cimandiri sehingga kawasan TNGGP menjadi tumpangan penyumpai air bersih yang dinikmati lebih dari 32 juta penduduk diwilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Salam Komando Mayjen TNI (P) Tatang Zaenudin Bersama redaktur MRN. M.Heryadi

Upaya yang akan dilakukan lebih lanjut yaitu berusaha menghentikan jantung dari para kelompok pemburu cacing sonari yang tidak bertanggung jawab karena dapat menghasilkan pencarian cacing sonari sebanyak 100kg perbulannya dengan harga perkilonya 5jt sampai 6jt rupiah kepada pengepul sehingga mengakibatkan ekosistem yang berada disana.

Pada tanggal 24 Maret 2017 anggota kepolisian pecet dan Gakkum Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menangkap seorang warga kampung Rarahan, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dan Tersangka yang bernama Didin tersebut masih dalam proses hukum.

Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin yang tergabung dalam pecinta lingkungan pun menyatakan sikap sebagai berikut ” Kami memohon kepada semua pihak agar tidak menutup mata atas terjadinya perusakan lingkungan yang berdampak pada bencana alam, Kami memohon kepada warga negara Indonesia tanpa terkecuali harus taat kepada hukum yang berlaku dinegara kesatuan Republik Indonesia tercinta, Kami mendukung aparat hukum untuk menindak tegas atas segala kesalahan yang telah dilakukan oleh para perusak lingkungan hidup dengan azas praduga tidak bersalah, Kami memohon agar aparat hukum dapat menangkap para pelaku lainnya yang telah merusak lingkungan di kawasan TNGGP, Kami juga memohon kepada para calon peserta pilkada Gubernur Jawa Barat agar tidak memanfaatkan situasi seperti ini hanya untuk mencari simpati publik menjelang Pilkada, Demikian pernyataan sikap yang kami buat agar dapat menjadi perhatian secara seksama”.(red/yadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *