Dr. Romi Siswanto : Refleksi Sinergi Pendidikan Indonesia Pada Masa Darurat Covid-19

0
10

Oleh; Dr. Romi Siswanto, M.Si (06 Mei 2020)

Dunia pendidikan kita sedang menghadapi kondisi yang sebelumnya belum pernah terjadi di Indonesia yaitu wabah Corona atau COVID 19. Satu abad yang lalu sekitar tahun 1920 di Indonesia pernah terjadi tiga wabah hebat yang menjadi perhatian pemerintah kolonial belanda yaitu PES, Cacar dan Malaria. Disamping wabah-wabah tersebut masih ada wabah seperti kusta dan yang masih terngiang dalam ingatan kita belum lama terjadi tahun 2012 wabah SARS atau lebih dikenal dengan Flu burung.

Dunia pendidikan paling terasa terkena dampak covid 19 ini apalagi kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) semua aktifittas dilakukan di rumah tidak terkecuali dunia pendidikan semua aktifitas dilakukan di rumah baik Guru maupun siswa wajib belajar di rumah .

Dengan kondisi diatas, siapa yang kira-kira siap menghadapinya?, Mari kita cermati beberapa prilaku warga sekolah akibat darurat covid-19; Pertama, guru adalah perangkat pendidikan yang paling siap dalam menghadapi kondisi darurat Covid-19 ini, dikarenakan sudah terbiasa melakukan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Naluri seorang guru pasti ada cara dalam menghdapi kondisi darurat seperti ini, mungkin ada juga guru yang bingung menghadapi kondisi darurat seperti ini tetapi tidak banyak.

Apalagi sudah banyak perangkat/sistem yang disediakan oleh pemerintah ataupun pihak swasta untuk pembelajran di rumah di masa darurat ini. Kemungkinan besar terkendala masalah non teknis saja seperti geografis yang tidak menguntungkan seperti sarana penerangan yangg terbatas, belum terkoneksi internet dan jarak sekolah, tempat tinggal guru dan siswa terlalu jauh.

Kedua, siswa, dalam kondisi darurat kesehatan seperti ini ada siswa yang senang dan ada yang sedih melakukan aktifitas di rumah saja. Namun demikian aktifitas belajar tetap dilakukan baik secara daring maupun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru secara langsung. Pembelajaran di rumah mencerminkan kolaborasi yang cukup kuat antara guru, siswa dan orang tua. Penurut pandangan penulis ini adalah pola baik yang harus terus dibangun.

Ketiga, orang tua, dalam kondisi darurat ini yang paling tidak siap adalah orang tua. Mengapa demikian, seperti yang pribadi penulis maupun hasil pengamatan kepada orang tua secara umum. Kemampuan akademik orang tua sangatlah beragam kondisi ini sangat menyulitkan dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari anak, apalagi anak-anak yang duduk di bangku kelas 7 keatas, mata pelajaran yang kami rasakan sulit dipahami adalah mata pelajaran sains dan matematika. Kondisi ini dikarenakan Kompetensi orang tua sangatlah beragam, dan kemampuannya tidaklah sama dalam mendampingi anak belajar dirumah.

Sehari-hari dalam kondisi normal mungkin memberi jam belajar anak sudah cukup dua jam saja. Seperti halnya saya yang terapkan pada anak saya, jam belajar selepas maghrib sekitar pukul 18.15 sampai dengan pukul 20.00 WIB. Nah, kondisi pada saat darurat covid 19 ini orang tua yang juga bekerja di rumah harus mendampingi anaknya belajar dari rumah. Seperti yang terjadi dengan keluarga kami yang bersekolah lima orang, satu di smp dan 4 di SD, sungguh kami menyadari setiap anak kemampuannya, kemauannya, gaya belajarnya sangat jauh berbeda, kami dihadapkan dengan kondisi yg berbeda-beda, sungguh perjuangan yang berat untuk mencapai kondisi yang diinginkan, berbeda/beda caranya dalam menghadapi anak kami sendiri. Hikmah yang dapat kami ambil sebagai orang tua dari darurat covid 19 ini adalah kami sebagai orang tua menyadari betul betapa luar biasa perjuangan Bapak dan Ibu guru dalam mendidik anak kami yang berbeda-beda kemampuannya untuk mencapai target capaian kompetensi setiap mata pelajaran. Refleksi atas keterbatasan orang tua harusnya berdampak pada penghargaan pada jasa guru.

Berangkat dari kondisi di atas, banya hal yang harus dilakukan dalam dunia pendidikan kita, misalnya bagaimana cara yang paling efektif untuk melakukan pembelajaran dalam kondisi darurat. Kondisi darurat perlu ada altenatif model pembelajaran seperti dengan model blended learning (tatap muka dan pembelejaran jarak jauh/ dalam jaringan). Pratikknya misalkan bisa mencoba dalam lima atau enam hari sekolah ada satu atau dua hari belajar dirumah mengerjakan tugas sekolah mungkin seperti Project Base Learning dikaitkan dengan materi mata pelajaran masing-masing dan dikerjakan kelompok atau individu dan mengikutsertakan anggota keluarga.

Dalam masa darurat ini banyak langkah-langkah yang inovatif yang menurut penulis bisa dilakukan, karena pedidikan dan pembelajaran dalam kondisi apapun harus tetap berjalan. Karena pendidikan nasib masa depan sebuah bangsa. Pertama, jika ditemui kondisi siswa yang kesulitan terkoneksi teknologi komunikasi, perlu ada perjuangan seorang guru yang rela mendatangi siswa ke rumah memberi tugas-tugas pelajaran agar pembelajaran tetap berjalan.

Kedua, konidisi siswa yang sudah terfasilitasi dengan teknologi informasi guru dapat memberikan proyek pelajaran, baik melalui sms maupun whatsaps (WA) apalagi dgn WA guru bisa memberikan proyek kelompok ke siswa, maksimal lima orang per kelompok. Banyak yang dapat dilakukan oleh guru semisal dengan video conference, video call dan atau pembuatan video tutorial, sehingga interaksi guru dan peserta didik dapat berjalan dengan baik.

Ketiga, jika terkendala secara geografis, Guru dapat memberikan pembelajaran melalui Radio bekerjasama degan radio pemerintah maupun swasta, mungkin kondisi ini efektif bagi siswa-siswa yang terkendala dengan kondisi geografis yang tidak terjangkau teknologi internet.

Semoga kondisi darurat ini segera berakhir Virus covid 19 segera lenyap dari muka bumi Indonesia, kita dapat melakukan aktiftas normal kembali. Kami secara pribadi atau mewakili orang tua Indonesia mengucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu guru yang telah mendidik anak kami dengan baik.

Penulis adalah : ASN kemdikbud dan Pengurus Pusat Forum Betawi Rempug (FBR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here