Dikonfirmasi Terkait Tuntutan JPU, Terdakwa Tedja Widjaja Enggan Berkomentar

Terdakwa Tedja Widjaja saat menjalani persidangan di pengadilan negeri jakarta utara

jakarta, mediarakyatnusantara.com –Duplik pribadi terdakwa Tedja Widjaja yang dibacakan di persidangan pengadilan negeri jakarta utara 01/07/19. terkesan mengulang kata kata yang sebelumnya sudah dituangkan dalam pledoi.

Dalam persidangan jaksa penuntut umum minta majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara agar menghukum terdakwa Direktur Utama (Dirut) PT Graha Mahardika (GM) Tedja Widjaja sesuai tuntutannya selama tiga tahun enam bulan (3,5 tahun) penjara.

“kami berharap majelis hakim mengabulkan tuntutan sebelumnya, menghukum terdakwa Tedja Widjaja selama tiga setengah tahun. Juga memasukkan terdakwa ke dalam tahanan sebagaimana kami mintakan dalam tuntutan sebelumnya,” ujar jaksa penuntut umum (JPU) Fedrik Adhar SH MH.

JPU Fedrik Adhar mengungkapkan bahwa perbuatan pidana penipuan yang dilakukan oleh terdakwa Tedja Widjaja terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Hal itu diperkuat dari saksi-saksi a charge, saksi fakta, saksi a de charge (saksi meringankan), ahli bahkan keterangan terdakwa Tedja Widjaja sendiri. Keterangan saksi-saksi dimaksud saling bersesuaian menunjukkan adanya tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa Tedja Widjaja dalam pembelian tanah lokasi kampus Uta’45.

“Kalau berdasarkan fakta-fakta, alat bukti dan keterangan saksi, saya sebagai jaksa penuntut umum dalam kasus ini optimis sekali tuntutan bakal diterima oleh majelis hakim. Hanya beratnya hukuman saja yang tidak bisa kami prediksi,” ujar Fedrik Adhar.

Dr Anton Sudanto SH MH penasehat hukum Uta’45

Penasihat hukum Uta’45 Dr Anton Sudanto SH MH, menambahkan bahwa duplik pribadi terdakwa Tedja Widjaja maupun penasihat hukumnya hanya pengulangan dari pledoi atau pembelaan sebelumnya.

“Semua fakta-fakta mulai dari akta jual beli (AJB) dan akta notaris sudah diklarifikasi JPU dalam repliknya. Akta nomor 1 dan nomor 2 telah dinyatakan cacat hukum oleh notaris Komalasari. Namun akta itu terus dipergunakan terdakwa Tedja Widjaja dalam transaksi. “tutur Anton.

Begitu juga seluruh akta jual beli telah diklarifikasi jaksa. Jadi klaim bangun gedung (kampus) Uta’45 dan pembayaran secara tunai oleh terdakwa Tedja Widjaja hanyalah omong kosong belaka. Tidak didukung tandaterima atau kwitansi pembayaran. “Jelas tidak masuk akal dan logis kalau pengusaha-pengusaha bertransaksi bernilai puluhan miliar rupiah tanpa didukung kwitansi atau tandaterima pembayaran. Begitulah yang terjadi dalam kasus penipuan ini. “ujar Anton.

Anton menduga pembangunan gedung yang dibayar terdakwa saat pelaksanaan pembangunan gedung Uta’45 adalah gedung sekolah Lentera Kasih, milik terdakwa sendiri yang lokasinya berdempetan dengan gedung kampus Uta45 “Pembangunan gedung sekolah Lentera Kasih itulah yang dibiayai terdakwa tetapi dalam persidangan disebutkan gedung kampus Uta’45. “ungkap Anton.

Atas fakta-fakta yang diputar balikan dan direkayasa terdakwa tersebut, Anton Sudanto berkeyakinan majelis hakim pengadilan negeri jakarta utara akan menghukum terdakwa Tedja Widjaja setimpal dengan perbuatannya.

“Saya yakin masih banyak hakim yang memiliki nurani dan mendengar kata hatinya dalam memutus suatu perkara. Nah, jika nuraninya itu yang dipergunakan maka dalam putusan majelis hakim terdakwa Tedja Widjaja bakal dihukum dan dimasukkan ke dalam tahanan sesuai tuntutan JPU,” ujar Dr Anton Sudanto SH MH. Saat dikonfirmasi wartawan.

Terdakwa Tedja Widjaja maupun penasihat hukumnya yang berusaha dimintai tanggapan terkait tuntutan jaksa penuntut umum menolak memberi komentar.

“Saya tidak perlu menanggapinya. Saya sudah merasa cukup dengan pledoi dan duplik saya pribadi,” katanya.

(Her Ysp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *